Gua dan MAPALA
(Part 1)
Sejarahnya...
Waktu jadi Mahasiswa Baru, sama sekali nggak kepikiran untuk ikutan Unit Kegiatan Mahasiswa yang satu ini.
Yang namanya Mahasiswa Baru taunya yaa Kuliah, Belajar, Lulus cepat dan kemudian dapat kerja.
Entah Bagaimana, gua tertarik untuk kegiatan Pecinta Alam.
Waktu SMP gua sempat ikut Pramuka. SMA gua suka naek gunung.
Tapi gak kebayang kalo pas kuliah jadi serius dalam menapaki hal ini.
Awalnya gua tau MAPALA dari OSPEK Fakultas. Setiap UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) di Kampus mempresentasikan Profil dari internalnya masing-masing.
Profil Anak-anak mapala cukup menarik buat gua ,
waktu itu gua sempat mengajukan beberapa pertanyaan dan dihadiahi sebuah sticker berlogokan MAPALA.
(Kalo pada penasaran sticker-nya seperti apa, coba liat belakang layar notebook gua)
Gua perhatiin ada abang-abang dan teteh-teteh keren yang bersyal warna ijo dan Biru.
Kalo yang syal ijo udah anggota penuh, istilahnya, udah senior. Yang syal Biru, masih anggota muda.
Abang-abang senior (Syal Ijo)
|
Yang Syal-nya beda sendiri (Warna Merah)
Menandakan dia Ketua Umum MAPALA.
|
Gua semakin tertarik dengan mapala setelah ngeliat langsung kegiatan mereka.
Wall Climbing, Mountaineering, Caving, dan masih banyak lagi.
Tapi,
Pas itu gua baru tertarik, belom kepengen.
Nah, hingga suatu hari , ada teman gua yang ngajakin ikutan daftar jadi anggota Mapala.
Doi termasuk teman baik gua dulu. Teman sejurusan gua, teman maen gua (saat itu).
Sebut saja namanya Beo.
Gua Udah Daftar dan Udah Mantap pengen jadi Calon Anggota.
Kemudian hal mengasalkan terjadi.
Ketika gua udah daftar dan melengkapi persyaratan administrasi, si Beo malah nggak jadi ikutan MAPALA. Doi gak ikutan daftar.
Kesal, jujur waktu itu gua kesal banget.
Tapi,
Saat itu gua memutuskan untuk tetap ikutan meskipun Beo narik diri.
Untungnya, saat itu gua nggak sendiri.
ternyata ada beberapa teman sejurusan gua yang juga ikutan daftar mapala.
Yaah, walaupun waktu itu gua sama mereka belum begitu dekat, minimal, gua gak sendiri lahh...
teman-teman sejurusan gua yang ikutan adalah sebagai berikut :
1. Elma (Ce)
2. Susi (Ce)
3. Henry (Co)
4. Lukman (Co)
5.Bobby (Co)
6. Hairul (Co)
Setelah Melalui berbagai macam Tahap Pelatihan dan Pendakian, Satu-persatu calon anggota gugur.
Mereka gugur bukan karena digagalkan atau di eliminasi oleh anggota mapala senior lainnya, melainkan banyak yang mundur karena masalah internal keluarga mereka yang tidak mendukung untuk bergabung menjadi anggota mapala.
Banyak isu yang beredar saat itu yang menguji keyakinan setiap calon anggota untuk tetap bertahan.
Di antaranya, isu dimana anggota Mapala dianggap sebagai mahasiswa yang paling lama menyelesaikan study perkuliahannya dan macam-macam gosip yang gak bisa gua sebutkan di sini.
Mungkin itu faktor yang membuat para orangtua khawatir sehingga memberikan warning sejak dini kepada anak-anak mereka.
Tapi,
Dari pandangan gua sendiri, sebenarnya itu tergantung dari diri pribadi masing-masing calon anggota.
Kalau seseorang mampu memfokuskan diri terhadap kedua hal tersebut, kenapa tidak?
Toh ikutan Mapala, kita bisa belajar berorganisasi dan bersosialisasi, ditambah lagi kita bisa ikut serta dalam pelestarian lingkungan sekitar.
Nyinggung dikit masalah dunia pekerjaan, seseorang hanya mengaplikasikan 20% dari ilmu yang dia dapat di bangku perkuliahan, sedangkan sisanya yang 80% merupakan soft skill yang ditempa melalui kegiatan berorganisasi baik di dalam kampus, maupun di luar kampus.
Hal ini kayaknya yang belum sepenuhnya dipahami oleh beberapa orangtua.
Kembali lagi ke topik,
Yang tadinya teman-teman gua berjumlah 6 orang, akhirnya tereduksi menjadi 4. Semuanya cowo, Cewe yang tersisa cuma gua doang.
Elma dan susi gak jadi ikut karena mereka nggak di restui oleh orangtuanya masing-masing.
Gua juga, Tapi gua serada bandel dikit, gua ngerahasiain keikut sertaan gua saat itu.
Diklat...
Saat diklat, yang tersisa adalah 10 orang dari 14 orang calon anggota.
dan saat itu, Gua sendiri cewe yang tersisa.
| Calon Anggota awal |
| Momen sebelum Pendakian di kediaman Juru Kunci Gn. Aseupan, Pandegelang Dengan Sisa calon anggota 10 Orang. |
Diklat (Pendidikan dan Latihan) ini merupakan Step akhir menjadi calon anggota dan step awal menuju keanggotaan di Mapala.
Diklat berlangsung selama seminggu dengan Program Diklat Survival, dan Telusur sungai.
Banyak Pelajaran berharga yang gua pelajari saat itu.
Rasanya, Pelajaran-pelajaran berharga tersebut tidak mampu gua tukar dengan apapun.
Belajar untuk Berani, Belajar tentang Kepemimpinan, Solidaritas , Kekeluargaan, Menghargai Alam, Menghargai Makanan, Memaksimalkan segala hal yang bisa dimanfaatkan, Dan yang paling terasa adalah, belajar bertahan hidup.
Ada kutipan menarik yang gua buktikan sendiri ketika pendakian.
"Karakter asli seseorang akan terlihat ketika menaiki gunung secara berkelompok "
"Karakter asli seseorang akan terlihat ketika menaiki gunung secara berkelompok "
Dan benar saja.
Gua kenal pribadi teman-teman gua dari pendakian tersebut.
Dan mereka pun mengenal gua.
Hal yang sangat melelahkan adalah ketika setiap langkah kaki menapaki bagian sisi miring dari bumi.
Namun, Yang menyenangkan adalah ketika tapak kita menyentuh puncak dari sisi miring tersebut.
Rasanya Menemukan sesuatu yang tidak sederhana.
Dari diklat ini, Gua gak cuma mendapatkan pelajaran berharga.
Gua dapat keluarga baru dan sebuah pengakuan dengan simbol syal Biru.





